Total Tayangan Laman

Rabu, 02 November 2016

KELUARGA KECILKU

Aku selalu bersyukur dan merasa bahagia hidup bersama keluarga kecilku, mereka adalah istriku tercinta dan anak tersayang. Meski tak sesempurna kehidupan orang lain yang telah memiliki segalanya, aku menganggap apa yang aku miliki lebih dari cukup.
Aku akan selalu ada untuk keluargaku, begitu pula mereka selalu ada untukku. Aku merasa bahagia memiliki mereka, tak dapat kuungkapkan kebahagiaan itu melalui tulisan seberapa pun panjangnya. Meski disibukkan oleh pekerjaan, aku berusaha untuk selalu dapat membagi waktu bersama keluarga.

Semoga Sakinah, Mawadah Warahmah. Amien.

Kamis, 27 Februari 2014

1 ONS bukan 100 Gram – Pendidikan yang Menjadi Boomerang



Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir
tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan
limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak
ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara
langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal.
Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya
menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang
bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram,
sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan,
teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara
menunjukkanacuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g. Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang
mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10
kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau
dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan.

SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.

Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal ini
kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan ukur di
Indonesia, yaitu Direktorat Metrologi . Ternyata, pihak Dir. Metrologi-pun
telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram. Mereka
justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem
Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia. Untuk ukuran
berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan Ons bukanlah bagian
dari sistem metrik ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan
ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak
timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan “ons” dan “pound”.
Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1 pound =
500 gram,ternyata tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang legal atau
pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100
gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional,
tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus Indonesia. Jadi, hal ini
adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun. Sampai kapan mau
dipertahankan ?

BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?

Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku
sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan
salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan
menyesatkan. Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana
penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas
dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak kita)
menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua sekolah
mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan anak-anak
kita pun menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. “Racun” ini sudah
tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini.

Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang
diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia
mengajarkan seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk
melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberi-kan
petunjuk resmi.

TANGGUNG JAWAB SIAPA ?

Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan kita
jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada
para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar tidak
menjadi beban psikologis bagi mereka ; “acuan sistem timbang legal yang
mana yang pernah diakui / diberlakukan secara internasional, yang
menyatakan bahwa 1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram.”?

Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini
diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ? Pernahkan Dep.
Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain Indonesia berlaku
konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram ? Patut dipertanyakan
pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku pegangan sekolah yng
melestarikan kesalahan ini ?

Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan ons yang keliru ini,
sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang
pemakaian satuan “ons” dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah
harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas). Sistem
baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum
diajarkan kepada anak-anak. Perlukah adanya sistem timbangan Indonesia
yang konversinya adalah 1 ons (Depdiknas) = 100 gram dan 1 pound
(Depdiknas) = 500 gram. ? Bagaimana “Ons dan Pound (Depdiknas)” ini
dimasukkan dalam sistem metrik yang sudah baku diseluruh dunia ? Siapa
yang mau pakai ?.

HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI

Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang
merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak
kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu
contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue
dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya.
Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan masalah
nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan.
Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis mengenai
hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia.
Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki kesalahan.
Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal Takar-Timbang-Ukur,
Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun terhadap Direktorat
Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia. Mari kita
ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi.

Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita
harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya, prosesnya,
materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan dalam hal
kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat
berat. Janganlah malah diperberat dengan pelajaran sampah yang justru
bakal menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti
aturan dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan
hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan
yang salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri
yang berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional.
Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar
sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh
dengantantangan berat.

ACUAN MANA YANG BENAR ?

Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan
juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford, dll. (maaf, ini bukan
promosi) menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan lagi.
Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat
dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian / diary/agenda yang biasanya
diberikan oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi.

Salah satu konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara
internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz).

1 ounce/ons/onza = 28,35 gram (bukan 100 g.)

1 pound = 453 gram (bukan 500 g.)

1 pound = 16 ounce (bukan 5 ons)

Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep
obat yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah
kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek ?
Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum !!!
Jadi, kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan.
(ini hanya gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan,
bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)

KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN – LALU SIAPA ?

Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan
pemerintah, akademis, profesi, bisnis / pedagang, sekolah dan orang tua
dan juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan “ons
dan pound yang keliru” dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran system
timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai
pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta rumus konversi yang benar.
Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam kebiasaan
kita, yang bisa mencelakakan / menyesatkan anak-anak kita, generasi
penerus bangsa ini.

# # # # #

Tulisan ini akan dikirimkan kepada media masa, baik cetak maupun
elektronik yang mau menyiarkannya demi kepentingan bangsa. Dipersilahkan
mengubah formatnya sesuai dengan ketentuan penyiaran masing-masing.
Juga kepada sekolah-sekolah, pabrik-pabrik serta LSM dan masyarakat umum,
untuk diketahui secara luas.

Bila anda merasa sependapat dengan saya, setuju untuk menghentikan
kesalahan ini demi masa depan anak bangsa Indonesia, silahkan diperbanyak
/ difoto copy dan disebar-luaskan sendiri.

Bila anda ragu-ragu terhadap kebenaran tulisan ini, silahkan menanyakannya
langsung kepada Direktorat Metrologi atau Balai Metrologi setempat dikota
anda berada.

Terima kasih saya ucapkan kepada anda yang peduli dan mau berpar-tisipasi
menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia. Semoga Tuhan memberkati
upaya ini, yang kita lakukan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun.

# # # # #

Ditengah orang-orang waras, dia yang lain sendiri dianggap gila. Ditengah
orang-orang gila, dia yang waras justru dianggap gila. Memang banyak orang
yang benar, tetapi jangan diartikan bahwa yang diikuti banyak orang itulah
yang pasti dan selalu benar.

LEMBAR PELENGKAP TAKAR – UKUR – TIMBANG MENGIKUTI SISTEM METRIK YANG BERLAKU SEJAK THN 1799

Kuantitas Satuan Simbol Keterangan Panjang meter m Bukan mtr Luas meter persegi m2 Isi meter kubik m3 Berat gram g Bukan gr Takaran liter l 1 l = 1.000 cm3 (cc)
Suhu derajad Celcius ºC

BEBERAPA SEBUTAN / AWALAN UNTUK FAKTOR PENGALI DALAM SISTEM METRIK

Awalan Faktor Pengal Simbol / Singkatan
Contoh Pemakaian
Giga 1.000.000.000 G GHz
mega 1.000.000 M MW
kilo 1000 k km
hecto 100
h ha
deka 10 da dam
deci 0,1 d dm
centi 0,01 c cm
mili 0,001 m ml
micro 0,000.001 μ
μF

dan seterusnya.

Dalam sistem metrik memang dikenal 1 are = 100 m2 khusus untuk ukuran
tanah yang diakui sah secara internasional.
Untuk satuan ONS yang mengartikan kelipatan 100 g., apalagi POUND yang
mengartikan kelipatan 500 g., tidak pernah ada didalam sistem metrik
maupun non-metrik / imperial yang pernah diberlakukan sah secara
internasional.



Sumber : http://www.sdnmenteng01.com/archives/1504#.T1rvs9FAcSc.facebook

Selasa, 17 Desember 2013

HIDUP UNTUK PENDIDIKAN (REFLEKSI DUA TAHUN BERSAMA SMP SEKAR)




Tak terasa, saya sudah dua tahun mengabdi di Sekar-Bojonegoro. Setelah Sembilan tahun lamanya saya melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu, akhirnya saya kembali pulang untuk mengamalkan ilmu saya. Perjalanan ini dimulai sejak tahun 2002 sampai dengan tahun 2011. Perjalanan ini saya abadikan dalam sejarah hidupku sebagaimana telah ku tuliskan dalam sebuah puisi:
SUMBERAGUNG
sumberagung...............
di pondok ini aku awali perjalanan jauh.
dalam gerak langkah yang amat lambat,
ku genggang erat tongkat sabdo dawoh & amalan.
pemberian dari simbah romo yai.
agar aku tak berhenti dalam meniti jalan kehidupan.

sesampai ditengah sawah ladang membentang,
ku ayunkan cangkul dan sabit tuk menanam benih-benih ilmu,
sehingga aku memetik buah amal,
diwaktu musim panen tiba

sumberagung.........
pondok yang membukakan aku ladang kesadaran dan pemikiran.
hingga aku yakin untuk selalu memegang cangkul dan sabit
saat aku membuka sawah ladang di surabaya

sby, 21 okt '09
puisi diatas mengisahkan perjalanan hidupku dari Desa Tulung-Madiun menuju Surabaya. Perjalanan ini banyak kisah suka maupun duka. Saya berkeyakinan bahwa semuanya itu ada hikmahnya, fi kulli syai’in hikmah.
Pada bulan oktober 2011 merupakan awal dimulainya pengabdian saya di Sekar, tempat kelahiran saya. Pada bulan tersebut saya menjadi pendidik di SMP PGRI Sekar, sekolah terpencil jauh dari kota Bojonegoro. Selanjutnya pada bulan Januari 2012 saya masuk di SMPN 1 Sekar.  Meskipun saya baru dua tahun disini, sekolah ini tak asing bagi saya karena saya pernah belajar disini dan merupakan salah satu alumni SMPN 1 Sekar. Dulu sekolah ini bernama SLTPN 2 Ngambon dan berubah nama menjadi SMPN 1 Sekar seiring dengan perubahan Sekar sebagai kecamatan.
Menjadi berfaedah bagi segenap bangsa dan Negara Indonesia merupakan hal yang ingin kucapai di gelanggang pendidikan. Saya ingin kehadiran saya di panggung pendidikan memberikan manfaat berharga bagi segenap bangsa dan Negara. Jika itu tercapai, maka saya merasa tergapai pula esensi tanggung jawab dalam mencerdaskan kehidupan bangsa yang saya pikul.   
Selama dua tahun saya menjadi pendidik di SMP PGRI Sekar maupun di SMPN 1 Sekar, saya banyak belajar disini. Ilmu yang saya peroleh dari bangku kuliah dapat saya implementasikan langsung, ternyata itu akan menjadikan keilmuan seseorang menjadi matang. Saya sangat bersyukur bisa belajar kembali di SMPN 1 Sekar, dan  al-Qamdulillah saya dipertemukan kembali dengan guru-guru saya waktu di SMP dulu diantaranya Bapak/Ibu: Drs. Ansori, , Drs. Ahmad Juliono,Rr. Ernya M., S.Pd., Drs. Sujarwo, Dra. Endah S.R., Drs. A.S. Ponco M., Drs. Sutarji, Sunardi, S.Pd.,  Winandjar, S.Pd., dan Dra. Juharsi. Dan saat ini saya punya guru baru lagi di SMPN 1 Sekar  yaitu Bapak Abdul Wahab, S.Pd. yang saat ini sedang melanjutkan studi S2 di Unesa.
Sebagai seorang pendidik, haruslah memahami bahwa “hidup untuk pendidikan” bukan “hidup dari pendidikan”. Hidup dari pendidikan adalah sebuah cara pandang yang menempatkan pendidikan sebagai alat atau cara untuk dapat meraih tujuan-tujuan diluar esensi dari makna pendidikan itu sendiri. Sedangkan hidup untuk pendidikan adalah sebuah cara pandang yang melihat pendidikan sebagai wadah atau media untuk “memberikan sesuatu”, bukan “mengambil sesuatu” darinya. Pendidikan adalah salah satu mekanisme untuk memberikan manfaat bagi bangsa, bukan mengambil manfaat untuk dirinya. Inilah substansi pendidikan yang sesungguhnya. Keberhasilan dalam berkependidikan atau menjadi pendidik adalah ketika mencapai taraf kebermanfaatan untuk bangsa.
Selama saya mengabdi di SMP Sekar tentunya masih ada yang perlu diperbaiki kinerja saya. Saya menyadari bahwa saya banyak sekali kekurangan-kekurangan. Untuk itu saya harus lebih meningkatkan lagi prestasi kerja saya. Belajar, Usaha dan Doa merupakan kunci kesuksesan. Semoga apa yang saya kerjakan selama ini dapat terus meningkat. Semoga sukses selalu.

Kamis, 05 Desember 2013

NOTULENSI MKP DAN MDP DESA SEKAR KEC. SEKAR-BOJONEGORO PNPM-MPd. TA. 2014

NOTULENSI
MUSYAWARAH DESA KHUSUS PEREMPUAN (MKP)
DESA SEKAR


HARI/TANGGAL           : JUMAT, 29 NOPEMBER 2013
PUKUL                : 13.00
A.    PEMBUKAAN
Acara MKP dibuka oleh Kepala Desa Sekar Kec. Sekar-Bojonegoro. Dalam pembukaan MKP yang berlangsung di Balai Desa Sekar tersebut, Bapak Suyono selaku Kepala Desa Sekar menyampaikan beberapa hal terkait dengan kegiatan PNPM-MPd untuk tahun 2014. Acara tersebut dihadiri oleh wakil-wakil perempuan dari masyarakat, lembaga desa, pemerintah desa serta unsur terkait dengan pelaksanaan PNPM-MPd.  
B.     JALANNYA MUSYAWARAH
Ada beberapa aspirasi perempuan dalam MKP tahun ini, antara lain:
1.      Dusun Krajan: mengusulkan pelatihan menjahit.
2.      Dusun Grenjengan: mengusulkan pelatihan menjahit dan Pap Smear.
3.      Dusun Kalipapak: mengusulkan pelatihan menjahit.
4.      Dusun Gendongan: pelatihan menjahit dan Pembangunan Gedung TK.
5.      Dusun Kedungnongko: mengusulkan pelatihan menjahit.
Dari berbagai aspirasi perempuan tersebut, maka diputuskan dua usulan yang merupakan Keputusan Akhir dari MKP ini untuk dibawa ke Musyawarah Desa Perencanaan (MDP), yaitu Pelatihan Menjahit dan Pembangunan Gedung TK Gendongan. Selain itu, dari MKP juga diputuskan usulan yaitu pembangunan jalan lingkungan RT 03 sampai RT 07 dan Pap Smear untuk program Integrasi PNPM-MPd tahun 2014.
Sementara itu, wakil perempuan yang akan hadir dalam Musyawarah Antar Desa (MAD) Prioritas Usulan dan MAD Penetapan Usulan yaitu: a). Sunarti, b). Tri Wahyuni, c). Atik Ikesuma. Selain itu, juga terpilih wakil perempuan yang akan terlibat dalam penulisan usulan yaitu: a). Purwati, b). Jasri.
C.    PENUTUP
Demikianlah hasil dari Musyawarah Khusus Perempuan (MKP) desa Sekar Kec. Sekar-Bojonegoro. Semoga bermanfaat. Amien.






NOTULENSI
MUSYAWARAH DESA PERENCANAAN (MDP)
DESA SEKAR

HARI/TANGGAL: JUMAT, 29 NOPEMBER 2013

A.    PEMBUKAAN
Acara ini dipimpin oleh Bapak Suyono selaku Kepala Desa Sekar Kec. Sekar-Bojonegoro. Acara tersebut dihadiri oleh wakil-wakil dari masyarakat, lembaga desa, pemerintah desa serta unsur terkait dengan pelaksanaan PNPM-MPd. Bapak Suyono selaku Kepala Desa Sekar menyampaikan beberapa hal terkait dengan kegiatan PNPM-MPd untuk tahun 2014, termasuk membacakan hasil galian gagasan dalam Musyawarah Dusun (MUSDUS) yang telah dilakukan oleh KPMD di lima dusun yang ada di desa Sekar.

B.     JALANNYA MUSYAWARAH
Agenda bahasan dalam MDP beserta hasilnya dapat dipaparkan sebagai berikut:
a.       Mengesahkan hasil MKP:
1.      Pembangunan Gedung TK Gendongan
2.      Pelatihan menjahit.
b.      Memilih Tim Penulis Usulan (TPU)
1.      Ketua TPU: Atik Ike Suma
2.      Anggota TPU: Purwati
3.       Anggota TPU: Jasri
4.      Anggota TPU dari KPMD Putra: Whan Laba, S.Pd.I
5.      Anggota TPU dari KPMD Putri: Sri Agustina, A.Ma.
c.       Menetapkan wakil 6 (enam) orang dalam MAD Prioritas:
1.      Kepala Desa: Suyono
2.      TPK: Kasim
3.      Tokoh Masyarakat: Susilo.
4.      Wakil perempuan: Sunarti
5.      Wakil perempuan: Tri Wahyuni
6.      Wakil perempuan: Atik Ikesuma.
d.      Menetapkan 11 (sebelas) orang penyusun RPJM-Des.
1.      Suyono (Kepala Desa Sekar)
2.      Munawar (Sekretaris Desa Sekar)
3.      Rasid (LMD)
4.      Sutrisno (Kasun Grenjengan)
5.      Sugeng (Kaur Kesra)
6.      Kundari (Pengurus TP-PKK)
7.      Whan Laba, S.Pd.I (KPMD Putra)
8.      Sri Agustina, A.Ma. (KPMD Putri)
9.      Sunarti (Bendahara TPK)
10.  Radi
11.  Parjan.
C.    PENUTUP
Demikianlah hasil dari Musyawarah Desa Perencanaan (MDP) desa Sekar Kec. Sekar-Bojonegoro. Semoga bermanfaat. Amien.


Senin, 18 November 2013

PANDUAN FASILITASI KPMD Tahap Perencanaan

PANDUAN FASILITASI KPMD DALAM BERBAGAI TAHAPAN KEGIATAN PNPM
TAHAP PERENCANAAN
NO
KEGIATAN
TUJUAN
LANGKAH-LANGKAH
KETERANGAN
1
Penggalian gagasan/Musyawarah Dusun/RW/Kelompok
1.     Sosialisasi PNPM -MP kepada kelompok masyarakat
2.     Menentukan klasifikasi Kesejahteraan
3.     Menyusun Peta Sosial
4.     Menganalisis permasalahan dan penyebab kemiskinan masyarakat.
5.     Menggali gagasan untuk maupun visi ke depan dari masyarakat untuk mengatasi permasalahan dan penyebab kemiskinan
6.     Menentukan utusan dusun/kelompok ke MKP dan MP Perencanaan
PERSIAPAN :
1.     Kerjasama dengan perangkat/ketua kelompok untuk mengundang/menumpang , tempat, waktu untuk penggalian gagasan.
2.     Kerja sama dengan TPK untuk ikut sosialisasi dan penggalian gagasan bersama-sama
3.     Sehari sebelum acara dimulai pastikan pelaksanaan acara :
·          Peserta telah diundang
·          Tempat dan waktu tidak ada perubahan
4.     Persiapkan Spidol, kertas plano, berita acara, susunan acara, Peta sosial desa, daftar hadir

PELAKSANAAN :
1.     Menjelaskan tentang kebijakan PNPM -MP
2.     Beri kesempatan hadirin bertanya.
3.     Untuk pertemuan pertama ajak peserta bersama-sama menentukan klasifikasi kesejahteraan : Kaya, menengah dan miskin
4.     Ajak peserta bersama-sama mencari penyebab akar kemiskinan di desa
5.     Terangkan dan gunakan Peta Sosial untuk alat bantu menggali gagasan
6.     Tulis usulan gagasan di kertas plano
7.     Ajak peserta untuk mencari pemecahan masalah dari yang diusulkan satu persatu dan visi kedepan peserta untuk mengatasi permasalahan tersebut
8.     Pandu kelompok untuk memilih wakil dalam MKP dan Musdes Perencanaan
9.     Bacakan sekali lagi hasil musyawarah dan buat berita Acara
10.   Berita acara Mengetahui Ketua kelompok atau Kadus atau Ketua tempat pertemuan berlangsung.
Setelah pertemuan jangan lupa  : Daftar hadir berita acara dan notulendibawahnya ditulis : 1.Jumlahpeserta laki-laki?
2.Jumlah peserta perempuan dan
3.Jumlah orang miskin dari peserta yang hadir. Penggalian gagasan atau musdus ini sifatnya review dari RPJMDes/Kel tahun yang akan datang
2














MKP ( Musyawarah Khusus Untuk Perempuan )
1.     Gagasan-gagasan kegiatan dan visi ke depan kelompok perempuan dlm mengatasi penyebab kemiskinan
2.     Menetapkan usulan SPP dan usulan selain SPP
3.     Memilih wakil perempuan untuk hadir dalam MAD
4.     Memilih wakil perempuan yang terlibat dalam penulisan usulan
PERSIAPAN :
1.     Kerjasama dengan Kepala Desa/ketua kelompok untuk MKP bahas bersama tentang : Waktu, tempat dan lain-lainnya.
2.     Pilih waktu yang tepat kapan perempuan banyak bisa hadir
5.     Sehari sebelum acara dimulai pastikan pelaksanaan acara :
·          Peserta telah diundang
·          Tempat dan waktu tidak ada perubahan
Persiapkan Spidol, kertas plano, berita acara, susunan acara, Peta sosial desa, daftar hadir
PELAKSANAAN :
1.     Jelaskan tujuan pertemuan MKP dan jelaskan kembali tentang PNPM -MP
2.     Ajak peserta bersama-sama mencari penyebab akar kemiskinan di desa dan ajak peserta diskusi untuk membantu mengatasi masalah tersebut.
3.     Jelaskan tentang syarat usulan, sanksi, swadaya ( baik usulan SPP maupun lainnya)
4.     Tulis usulan gagasan di kertas plano.
5.     Ajak peserta untuk membahas usulan : Lebih bermanfaat bagi kelompok miskin, bermanfaat untuk perempuan, bisa dikerjakan masyarakat, didukung oleh sumberdaya yang ada
6.     Gunakan Peta Sosial desa dalam menyepakati usulan akan akan diajukan oleh perempuan.
7.     pilih 3 wakil perempuan untuk hadir dalam MAD.
8.     Pilih 2 orang wakil perempuan yang akan terlibat dalam penulisan usulan ( bisa diambil dari utusan MAD ).
9.     Bacakan kembali hasil keputusan MKP dan buat  berita acaranya
Setelah pertemuan jangan lupa  : Daftar hadir berita acara dan notulendibawahnya ditulis :
1..Jumlah peserta perempuan dan
2..Jumlah orang miskin dari peserta yang hadir.
MKP ini sifatnya review dari RPJMDes/Kel tahun yang akan datang
3.
Musyawarah desa Perencanaan.
1.     Tersusunnya peta Sosial desa dan prioritas penggalian gagasan untuk dimasukkan dalam RPTD dan RPJMP
2.     Tersusunnya visi dan misi desa
3.     Mengesahkan jumlah Rumah Tangga Miskin Desa
4.     Mengesahkan keputusan hasil MKP.
5.     Menetapkan usulan desa
6.     Menetapkan enam orang wakil MAD.
7.     Menetapkan Tim Penulis usulan
8.     Menetapkan calon pengamat MAD
PERSIAPAN :
1.     Kerjasama dengan perangkat/Kepala Desa untuk mengundang masyarakat, tempat,  dll.
2.     Koordinasi dengan FK/FT/PJOK akan adanya musdes.
3.     Tulis usulan MKP dan daftar gagasan campuran dalam kertas plano.
4.     Sehari sebelum acara dimulai pastikan pelaksanaan acara :
a.     Peserta telah diundang
b.     Tempat dan waktu tidak ada perubahan
5.     Persiapkan Spidol, kertas plano, berita acara, susunan acara, Peta sosial desa, tempat pertemuan telah beres ( kursi, meja, papan tulis, Speaker ).
PELAKSANAAN :
1.     Pembukaan oleh Kepala desa.
6.     daftar hadir, kertas paper bila nanti ada pemungutan suara.
2.     Pastikan Penjelasan tujuan pertemuan oleh Ketua Tim Pelaksana .
3.     Penjelasan kembali Prinsip-prinsip PNPM -MP oleh KPMD
4.     Pasang Peta sosial Desa untuk mengetahui posisi usulan
5.     Pasang semua gagasan dan ajak peserta bersama-sama membahas gagasan dan memetakan gagasan untuk RPTD dan RPJMP dan merumuskan visi dan misi desa
6.     Menetapkan dan mengesahkan jumlah Rumah Tangga Miskin Desa.
7.     Penetapan usulan desa dua diantaranya dari hasil MKP yang akan diajukan dalam MAD.
8.     Penetapan enam wakil desa dalam MAD ( Kepala Desa, ketua TPK, Tokoh masy, 3 wakil perempuan hasil MKP )
9.     Penetapan 5 orang Tim penulis usulan ( 1 orang KT, 2 perempuan hasil MKP, 2 orang KPMD )
10.   Pemilihan calon pengamat.
11.   bacakan hasil keputusan dan buat berita acara.
Setelah pertemuan jangan lupa  : Daftar hadir berita acara dan notulendibawahnya ditulis : 1.Jumlahpeserta laki-laki?
2.Jumlah peserta perempuan dan
3.Jumlah orang miskin dari peserta yang hadir.
Musdes Perencanaan ini sifatnya review dari RPJMDes/Kel tahun yang akan datang
4.
Penulisan Usulan
1. Agar gagasan yang telah disepakati dalam Musyawarah Desa Perencanaan dapat ditulis dengan jelas sehingga memudahkan tim Verifikasi memeriksa kelayakannya.
1.     KPMD sebagai anggota Tim Penulis usulan membuat kesepakatan dengan anggota TPU yang lain kapan akan melakukan penulisan usulan  ( pastikan hari, tanggal, jam, tempat penulisan usulan )
2.     Hubungi dan koordinasi dengan Kepala Desa, TPK dan tokoh masyarakat lainnya.
3.     Persiapkan peralatan penulisan usulan ( Kertas, bolpoin, peta sosial, dan lain sebagainya ).
4.     Persiapkan bahan-bahan  (data) yang diperlukan seperti : Berita acara MKP, MP , Formulir-formulir penulisan usulan ( lihat buku penjelasan VI Penulisan usulan dan Verifikasi )
5.     Untuk usulan SPP, persiapkan form daftar peminjam yang meliputi nama, alamat, jenis usaha, besar pinjaman, tanda tangan.
6.     untuk usulan prasarana, terlebih dahulu lakukan kunjungan lapangan (survei) prasarana yang akan dibangun ( lokasinya dimana? Berapa patok (meter) untuk usulan jalan, berapa lokal untuk usulan madrasah,TK dan lain sebagainya)
7.     pada saat penulisan usulan, uraikan dengan singkat, padat dan jelas alasan manfaat usulan, latar belakang, tujuan usulan, berapa volumenya, bentuk atau konstruksi seperti usulan misalnya gorong-gorong plat beton, jalan aspal dll
8.     Tuliskan lokasi usulan, jumlah penerima manfaat, berapa atau apa swadaya masyarakat,
9.     Buat Rencana Anggaran biaya untuk usulan SPP
10.   Periksa kembali hasil penulisan usulan, dan seluruh TPU tanda tangan serta
11.   lampirkan data-data pendukung secara lengkap.
Bila ada sesuatu yang belum jelas konsultasikan dengan FT/FK/PL
5
Verifikasi
Memberikan jawaban/ penjelasan kepada Tim verifikasi tentang manfaat usulan
1.     koordinasi dengan TPU, TPK, Kepala desa, perangkat dan lembaga terkait akan adanya kunjungan lapangan  ( hari apa, tanggal berapa, jam berapa ).
2.     Persiapkan alat-alat untuk membantu Tim Verifikasi seperti meteran, tambang/rafia dan sebagainya.
      3.  Untuk usulan Simpan pinjam datangkan seluruh Ketua dan anggota kelompok
6
MUSYAWARAH ANTAR DESAPRIORITAS USULAN) DAN PENETAPAN USULAN
1.Menyusun dan menetapkan peringkat usulan SPP dan non SPP
2.Menyepakati sanksi, aturan perguliran
3.menyusun jadwal Musyawarah Desa III.

4.Menetapkan usulan terdanai dan jumlah dana
1.     Hubungi Wakil wakil masyarakat yang akan menghadiri MAD ( Wakil masyarakat sudah dipilih pada waktu MP Perencanaan yaitu; Kepala Desa, Ketua TPK, 3 orang tokoh Perempuan dan 1 orang tokoh laki-laki.
2.     Terangkan tugas-tugas wakil masyarakat pada saat hadir di MAD, Tugasnya adalah memperjuangkan usulan desa,ikut berpartisipasi dalam setiap pembahasan, mencatat hasil MAD).
3.     Hubungi tokoh masyarakat yang terpilih sebagai pengamat.
4.     Terangkan tugas pengamat dalam MAD; tugasnya adalah mengamati jalannya musyawarah agar berlangsung tertib, tidak ada kecurangan, mendampingi kelompok dalam berdiskusi, bisa memberikan penengahan apabila ada ketidaktitiktemuan, pengamat harus bisa independen, tidak memihak kepada salah satu peserta atau desa.
Pada hari H periksa kembali apakah wakil MAD sudah hadir semua
7
MUSYAWARAH DESA INFORMASI HASIL MAD















1. Sosialisasi hasil penetapan alokasi dana PNPM -MP yang diputuskan dalam MAD.
2. Bagi desa yang terdanai :
Ø  Menetapkan susunan lengkap TPK .
Ø  Menyepakati besar insentif pekerja dan cara pembayarannya
Ø  Menyepakati sanksi-sanksi pelaksanaan
Ø  Menjelaskan mekanisme pengadaan bahan
Ø  Menyepakati realisasi swadaya masyarakat
Ø  Membentuk Tim Khusus yang akan memantau pelaksanaan PNPM -MP.
PERSIAPAN ;
1.Koordinasi dengan Kepala desa, Ketua TPK, perangkat ; konsultasikan tentang :
Ø  Waktu MP : Kapan ( Hari apa, tanggal berapa, Jam berapa )
Ø  Tempat : dimana, tempat duduk mencukupi apa tidak
Ø  Undangan : siapa saja yang diundang, siapa yang mengedarkan undangan, kontrol sekali lagi satu hari sebelum pelaksanaan apakah undangan telah disampaikan.

2.Materi : Tujuan MP apa, hasil MAD, persiapan daftar hadir, Berita Acara MP , Kertas plano                 ( karton), Spidol, solasi dll.
PELAKSANAAN :
1.     Pembukaan oleh kepala desa.
2.     Penjelasan mengenai hasil MAD penetapan usulan oleh KPMD
      Khusus untuk desa yang terdanai PNPM -MP
3.     Pembahasan mengenai Jumlah dana yang diterima oleh desa.
4.     Menetapkan susunan lengkap TPK (bila perlu tambahan seperti, penerima material, pencari material.
5.     Menyepakati besarnya insentif pekerja, tukang, mandor.
6.     Menyepakati sanksi pelaksanaan, berikan contoh apabila ada TPK, atau pekerja yang tidak menjalankan kewajibannya/menyelewengkan dana.
7.     Sepakati insentif pekerja, tukang, mandor dan berapa yang disumbangkan untuk swadaya, dilihat lagi berita acara tentang kesanggupan swadaya.
Menetapkan Tim Khusus Pemantau pelaksanaan. Kemukakan dahulu tugas dari Tim Khusus yaitu: -memeriksa administrasi keuangan TPK, memeriksa Kuitansi pembayaran TPK, memeriksa pelaksanaan pekerjaan, menjelaskan hasil pemantauannya kepada masyarakat dalam Musyawarah pertanggungjawaban. Kemukakan pula bahwa Tim Khusus tidak mendapatkan honor dari dana PNPM -MP.


Baik desa yang usulannya terdanai maupun tidak wajib melaksanakan Musdes
Penulis adalah KPMD Sekar-Bojonegoro